• Sep 27, 2023

Supplier: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Risiko Supplier

by Leonard Wokal 7 months ago in Business
Supplier: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Risiko Supplier

Foto Ilustrasi

Pengertian Supplier

Apa itu Supplier? Supplier adalah pihak atau perusahaan yang menyediakan barang atau jasa kepada perusahaan atau individu lainnya. Dalam konteks bisnis, supplier sering disebut juga sebagai vendor, penyalur, atau pemasok.

Tujuan utama dari keberadaan supplier adalah untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan pelanggan dengan menyediakan produk atau layanan yang dibutuhkan.

Fungsi Supplier

Fungsi utama supplier adalah menyediakan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan atau individu. Namun, selain itu, supplier juga memiliki beberapa fungsi penting lainnya dalam proses bisnis, antara lain:

  1. Menjaga Ketersediaan Stok. Supplier bertanggung jawab untuk memastikan bahwa stok barang tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan. Mereka juga harus memantau tingkat persediaan barang dan melakukan restocking jika diperlukan.
  2. Memastikan Kualitas Barang. Supplier harus memastikan bahwa barang atau jasa yang mereka sediakan memiliki kualitas yang memenuhi standar yang ditetapkan. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan reputasi perusahaan.
  3. Memberikan Harga yang Kompetitif. Supplier harus memberikan harga yang kompetitif agar perusahaan atau individu yang membeli barang atau jasa tersebut dapat memperoleh keuntungan yang maksimal.
  4. Memberikan Pelayanan yang Memuaskan. Supplier harus memberikan pelayanan yang memuaskan dan responsif terhadap permintaan pelanggan, termasuk pengiriman barang tepat waktu, memperbaiki produk yang rusak, dan memberikan solusi atas masalah yang terjadi.

Baca juga: Dropshipping: Pengertian, Tips, Cara Kerja, dan Kelebihan Dropshipping

Jenis-Jenis Supplier

Jenis-jenis supplier dapat dibedakan berdasarkan jenis barang atau jasa yang mereka sediakan, yaitu:

  1. Supplier Barang atau Produk adalah supplier yang menyediakan barang atau produk yang dibutuhkan oleh pelanggan, seperti bahan baku, komponen, atau produk jadi.
  2. Supplier Jasa adalah supplier yang menyediakan jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan, seperti jasa konsultan, jasa perawatan mesin, atau jasa pengiriman.
  3. Supplier Teknologi adalah supplier yang menyediakan perangkat keras atau perangkat lunak teknologi, seperti komputer, software, atau peralatan elektronik.
  4. Supplier Layanan Keuangan adalah supplier yang menyediakan layanan keuangan, seperti bank, asuransi, atau perusahaan investasi.
  5. Supplier Layanan Logistik adalah supplier yang menyediakan layanan logistik, seperti pengiriman barang, pergudangan, atau transportasi.

Memahami jenis-jenis supplier dapat membantu perusahaan atau individu dalam memilih supplier yang tepat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Tahapan dalam Pemilihan Supplier

1. Identifikasi Kebutuhan

Tahap pertama dalam pemilihan supplier adalah mengidentifikasi kebutuhan perusahaan atau individu. Pada tahap ini, perusahaan harus memahami secara detail jenis barang atau jasa yang dibutuhkan, kuantitasnya, dan tenggat waktu pengiriman.

Hal ini akan membantu perusahaan untuk menentukan kriteria pemilihan supplier yang sesuai.

2. Penentuan Kriteria Pemilihan Supplier

Setelah kebutuhan teridentifikasi, tahap selanjutnya adalah menentukan kriteria pemilihan supplier yang sesuai. Beberapa kriteria yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  1. Kualitas Produk atau Layanan Supplier harus memiliki produk atau layanan yang berkualitas dan memenuhi standar yang ditetapkan.
  2. Harga yang Kompetitif Harga yang ditawarkan oleh supplier harus kompetitif agar perusahaan atau individu dapat memperoleh keuntungan yang maksimal.
  3. Pelayanan yang Responsif Supplier harus memberikan pelayanan yang responsif dan memuaskan terhadap permintaan pelanggan.
  4. Ketersediaan Stok dan Waktu Pengiriman Supplier harus memiliki stok barang yang cukup dan dapat mengirimkan barang sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan.
  5. Reputasi dan Pengalaman Supplier yang dipilih harus memiliki reputasi yang baik dan pengalaman yang cukup dalam menyediakan produk atau layanan yang dibutuhkan.

3. Riset dan Pencarian Supplier

Setelah menentukan kriteria pemilihan supplier, tahap selanjutnya adalah melakukan riset dan pencarian supplier yang sesuai. Perusahaan dapat melakukan riset melalui internet, media sosial, atau menghubungi asosiasi industri terkait.

Selain itu, perusahaan juga dapat meminta referensi dari rekan bisnis atau pelanggan yang sudah berpengalaman dalam bekerja dengan supplier tertentu.

4. Seleksi dan Evaluasi Supplier

Setelah mendapatkan beberapa calon supplier, tahap selanjutnya adalah melakukan seleksi dan evaluasi. Perusahaan dapat melakukan wawancara dengan calon supplier, melakukan kunjungan ke pabrik atau kantor supplier, dan meminta sampel produk atau layanan yang disediakan.

Selain itu, perusahaan juga dapat melakukan pengecekan referensi dan melihat portofolio pekerjaan yang pernah dilakukan oleh supplier.

Setelah melakukan seleksi, perusahaan harus melakukan evaluasi terhadap supplier yang dipilih. Evaluasi ini harus dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa supplier tetap memenuhi kriteria pemilihan yang ditetapkan.

Jika supplier tidak memenuhi standar yang ditetapkan, perusahaan harus segera mencari alternatif lain untuk menghindari risiko operasional dan finansial yang mungkin terjadi.

Hubungan Bisnis dengan Supplier

Supplier: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Risiko Supplier

1. Kemitraan dalam Bisnis

Hubungan bisnis dengan supplier harus dibangun berdasarkan kemitraan yang saling menguntungkan. Dalam kemitraan ini, perusahaan dan supplier harus saling menghormati dan saling percaya satu sama lain.

Perusahaan harus memperlakukan supplier sebagai mitra strategis, bukan hanya sebagai pemasok barang atau jasa.

2. Negosiasi Kontrak Kerja

Sebelum memulai kerja sama dengan supplier, perusahaan harus melakukan negosiasi kontrak kerja yang jelas dan transparan.

Kontrak kerja harus mencakup hal-hal seperti harga, kualitas produk atau layanan, tenggat waktu pengiriman, persyaratan pembayaran, serta hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Kontrak kerja yang baik akan membantu menghindari konflik di masa depan dan memastikan kepentingan kedua belah pihak terlindungi.

3. Monitoring dan Evaluasi Kinerja Supplier

Setelah kerja sama dimulai, perusahaan harus melakukan monitoring dan evaluasi kinerja supplier secara berkala.

Monitoring dan evaluasi kinerja ini harus mencakup hal-hal seperti kualitas produk atau layanan yang disediakan, kepatuhan terhadap tenggat waktu pengiriman, pelayanan yang diberikan, serta harga yang ditawarkan.

Jika terdapat masalah dalam kinerja supplier, perusahaan harus segera mengambil tindakan korektif.

4. Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Hubungan Bisnis

Perusahaan harus selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas hubungan bisnis dengan supplier. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membangun hubungan yang lebih erat dan saling menguntungkan, memberikan feedback yang konstruktif, serta memberikan insentif atau hadiah jika supplier berhasil memenuhi atau bahkan melampaui standar yang ditetapkan.

Selain itu, perusahaan juga dapat mengadakan pertemuan atau acara yang dirancang khusus untuk memperkuat hubungan bisnis dengan supplier.

Dengan menjalin hubungan yang baik dengan supplier, perusahaan dapat memperoleh manfaat jangka panjang seperti harga yang lebih baik, kualitas produk yang lebih baik, serta dukungan dalam pengembangan produk baru atau ekspansi bisnis.

Risiko dalam Hubungan Bisnis dengan Supplier

Dalam hubungan bisnis dengan supplier, terdapat beberapa risiko yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Risiko tersebut antara lain:

1. Risiko Operasional

Risiko operasional terjadi jika supplier tidak dapat memenuhi persyaratan produk atau layanan yang dijanjikan. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan produksi, keterlambatan pengiriman, atau kualitas yang buruk.

Risiko operasional dapat mengakibatkan penurunan kualitas produk atau layanan yang disediakan oleh perusahaan, dan dapat merusak reputasi perusahaan di mata pelanggan.

2. Risiko Keuangan

Risiko keuangan terjadi jika supplier mengalami masalah keuangan seperti bangkrut atau mengalami kesulitan dalam membayar utang.

Jika supplier mengalami masalah keuangan, perusahaan dapat kehilangan pemasok penting dan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan produksi atau operasional.

3. Risiko Reputasi

Risiko reputasi terjadi jika supplier terlibat dalam skandal atau masalah hukum yang dapat merusak reputasi perusahaan.

Sebagai contoh, jika perusahaan membeli bahan baku dari supplier yang terbukti menggunakan tenaga kerja anak atau mengabaikan praktek keamanan dan lingkungan, reputasi perusahaan dapat tercemar.

4. Strategi Mengatasi Risiko

Untuk mengatasi risiko dalam hubungan bisnis dengan supplier, perusahaan dapat mengambil beberapa strategi. Pertama, perusahaan harus memilih supplier dengan cermat dan melakukan evaluasi kinerja secara berkala untuk memastikan bahwa supplier memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Kedua, perusahaan harus memiliki rencana pengendalian risiko untuk mengatasi masalah keuangan atau operasional pada supplier. Ketiga, perusahaan harus menetapkan kriteria etis yang ketat dan memilih supplier yang memenuhi standar tersebut untuk menghindari risiko reputasi.

Keempat, perusahaan dapat memiliki rencana kontinuitas bisnis untuk mengatasi risiko kehilangan pemasok penting. Dengan memiliki strategi yang efektif untuk mengatasi risiko, perusahaan dapat meminimalkan dampak negatif dari risiko dalam hubungan bisnis dengan supplier.

Kesimpulan

Dalam bisnis, supplier memiliki peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan perusahaan akan bahan baku, barang jadi, atau jasa.

Pemilihan supplier yang tepat dan menjalin hubungan bisnis yang baik dapat membantu perusahaan mencapai keunggulan kompetitif dan meningkatkan kinerja operasional.

Proses pemilihan supplier meliputi identifikasi kebutuhan, penentuan kriteria pemilihan, riset dan pencarian supplier, serta seleksi dan evaluasi supplier.

Dalam menjalin hubungan bisnis dengan supplier, perusahaan perlu membangun kemitraan yang baik, melakukan negosiasi kontrak kerja, serta melakukan monitoring dan evaluasi kinerja supplier.

Selain itu, perusahaan juga perlu memperhatikan risiko dalam hubungan bisnis dengan supplier dan memiliki strategi yang efektif untuk mengatasi risiko tersebut.

Supplier memiliki relevansi yang tinggi dalam bisnis karena dapat mempengaruhi kualitas produk atau layanan yang disediakan oleh perusahaan serta dapat mempengaruhi kinerja operasional perusahaan.

Memilih supplier yang tepat dan menjalin hubungan bisnis yang baik dapat membantu perusahaan mencapai keunggulan kompetitif dan meningkatkan kinerja operasional.

Kegiatan supplier dapat memiliki implikasi yang signifikan dalam bisnis. Supplier yang tidak dapat memenuhi persyaratan produk atau layanan yang dijanjikan dapat merusak kualitas produk atau layanan perusahaan, yang pada gilirannya dapat merusak reputasi perusahaan di mata pelanggan.

Selain itu, masalah keuangan atau operasional pada supplier dapat menyebabkan perusahaan kehilangan pemasok penting dan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan produksi atau operasional.

Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memilih supplier dengan cermat, menjalin hubungan bisnis yang baik, dan memiliki strategi yang efektif untuk mengatasi risiko dalam hubungan bisnis dengan supplier.